Kamis, 22 Desember 2011

Pendugaan Erosi dengan Metode USLE


Untuk mengetahui besar tingkat erosi digunakan metode USLE, dimana faktor yang dipertimbangkan meliputi erosivitas hujan (R), erodibilitas tanah (K), faktor lereng (LS), serta faktor penggunaan dan pengolahan tanah (CP).
Rumus USLE : xxxxxxxxxxxxxxxx
dimana : A = erosi (ton/ha/tahun)
A = besarnya tanah yang terkikis dan terhanyutkan dalam ton/hektar/tahun
R = nilai indeks erosivitas hujan
K = faktor erodibilitas tanah yang terkikis dan terhanyutkan (ton/hektar)
L = panjang lereng dalam meter
S = kemiringan lereng dalam persen
C = faktor vegetasi
P = faktor tindakan manusia dalam pengelolaan dan konservasi tanah

Dengan menggunakan kriteria erosi dapat diketahui tingkat bahaya erosi yang terjadi di suatu daerah, dengan kriteria erosi 

Dimana :
Data-data yang perlu dalam pendugaan besarnya erosi menggunakan metode USLE ini adalah :
1. Data curah hujan
Data curah hujan dari stasiun pengamatan hujan terdekat dengan lokasi penelitian, sekurang-kurangnya 10 tahun terakhir. Data curah hujan ini digunakan untuk mengetahui faktor erosivitas hujan ( R) melalui persamaan Bols (1978) :
Dimana :
Rain = rerata curah hujan bulanan (cm)
Days = jumlah hari hujan per bulan
Max =curah hujan maksimum selama 24 jam pada bulan yang bersangkutan.

Perhitungan faktor erosivitas hujan ( R) yang lain dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini.
R = (0.41 x H)1.09 ……………….....(4)
dimana H = curah hujan (mm/th)

2. Erosivitas Hujan (EI30)
Indeks erosivitas hujan dapat diperoleh dengan menghitung besarnya energi kinetik hujan (Ek) yang ditimbulkan oleh intensitas hujan maksimum selama 30 menit (EI30). Dalam studi ini, erosivitas hujan dihitung menggunakan metode Utomo-Supriyadi (1989), berdasar data curah hujan rata-rata bulanan. Rumus yang dipergunakan adalah:
xxxxxxxxxxxxxxxxxx
dimana :
EI30 = erosivitas hujan,
R = tebal hujan rata-rata bulanan (cm)
Besarnya erosivitas tahunan merupakan penjumlahan dari besarnya erosivitas bulanan.

3. Erodibilitas tanah (K)
Faktor erodibilitas tanah didekati menggunakan tekstur tanah. Kriteria tekstur tanah dan besarnya nilai K terlihat dalam tabel 4 berikut :
Tabel 4. Faktor Erodibilitas Tanah (K) Berdasarkan Tekstur Tanah
Menurut Hammer (1978) dalam Utomo (1989), perhitungan nilai K dihitung persamaan :
xxxxxxxxxxxxxxxx
dimana :
M = persen pasir sangat halus + persen debu x (100 - % liat) (Tabel 3)
a = kandungan bahan organik (% C x 1,724)
b = harkat struktur tanah (Tabel 4)
c = harkat permeabilitas tanah (Tabel 5)



Indeks kepekaan tanah terhadap erosi atau erodibilitas tanah (K) merupakan jumlah tanah yang hilang rata-rata setiap tahun tanpa persatuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa persatuan indeks daya erosi curah hujan pada sebidang tanah tanpa tanaman (gundul), tanpa usaha pencegahan erosi. Kepekaan tanah terhadap erosi dipengaruhi oleh tekstur tanah (terutama kadar debu + pasir halus), bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah (Hardjowigeno, 1995).
Suatu model yang paling banyak dimanfaatkan adalah indeks erodibilitas K yang mencerminkan besarnya kehilangan tanah (erosi) per satuan intensitas hujan maksimum 30 menit (EI30). Prakiraan besarnya nilai erodibilitas tanah dapat diketahui berdasarkan data persentase debu dan pasir sangat halus, pasir, bahan organik, dan struktur, dan permeabilitas tanah.
Perlu dicatat bahwa nomograf tersebut dikembangkan berdasarkan penelitian empiris hubungan antara karakteristik tanah dengan pengukuran langsung angka erodibilitas tanah di 13 jenis tanah di amerika Utara (Wischmeir et. Al., 1971). Tanah tersebut umumnya mempunyai tekstur sedang dan struktur bervariasi dari sedang sampai rendah. Meskipun demikian, ada indikasi bahwa nomograf tersebut dapat juga dimanfaatkan di Indonesia karena penelitian Ambar dan Wiersum (1980) menunjukkan adanya korelasi besarnya nilai erodibilitas dari hasil penelitian lapangan dan dari perkiraan dengan menggunakan nomograf K. Dalam skala yang lebih luas, nomograf K ini telah dimanfaatkan oleh Lembaga penelitian Tanah Bogor untuk memetakan erodibilitas tanah di beberapa daerah di Indonesia (Suwardjo dan Soeparno, 1990). Pemetaan angka-angka erodibilitas tanah ini dilaksanakan dengan bantuan peta tanah, peta geomorfologi, dan data analisis tanah (persentase debu, pasir, bahan organik, struktur dan permeabilitas tanah).

4. Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)
Faktor ini didekati menggunakan kemiringan lereng. Kriteria klas lereng dan besarnya nilai LS .



Untuk penentuan faktor panjang dan kemiringan lereng (LS) maka akan dilakukan pengukuran panjang lereng (L) dengan persen kecuraman lereng (S). Nilai LS dapat dihitung dengan persamaan:
LS = V L ( 0,0138 + 0,00965 S + 0,00138 S2) 


2.5  Penggunaan Lahan dan Pengolahan Tanah (CP)
Faktor CP didekati dengan penggunaan lahan, dan ditimbang terhadap luas tiap satuan medan. 

Nilai faktor C dan P (faktor vegetasi dan pengelolaan tanaman atau tindakan manusia) diperoleh dari tabel C dan P berbagai tipe penggunaan lahan (Hammer 1981).

Klasifikasi Penggunaan Tanaman Brdasarkan Salinitas dan Rasio Sodium


Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah
1.      Kelas (1)Rendah RSC (< 1,25 m.e/l) digolongkan air yang cocok dan baik untuk semua jenis tanah, sehingga memberikan pertumbuhan tanaman yang normal. Air pada kelas ini tidak memberikan pengaruh buruk terhadap koloid tanah.
2.      Kelas (2)Sedang RSC (1,25 – 2,50 m.e/l). Air ini cocok untuk jenis tanah tertentu  dan untuk tanaman tertentu pula. Biasanya tanaman yang toleran dan agak toleran terhadap sodium dapat tumbuh
3.      Kelas (3)Tinggi RSC Tidak dapat digunakan pada tnah-tanah dengan drainase yang terbatas
4.      Kelas (4)Sangat Tinggi RSC (> 2,5 m.e/l). Air ini tidak cocok dipakai untuk kepentingan tanaman, karena tingkat kadar garamnya sangat tinggi

1.      Kelas rendah
Pada kelas ini memiliki salinitas rendah dan berada pada irigasi hulu. Tanaman yang sesuai dengan irigasi ini antara lain :
a)      Kacang tanah              e) Lemon
b)      Kacang panjang          f) Apel
c)      Kedelai                       
d)     Jeruk
Hal ini karena tanaman tersebut sensitif terhadap salinitas. Tumbuhan tersebut dapat tumbuh pada ketinggian (1200-2700mdpl)

2.      Kelas sedang
Pada kelas ini memiliki salinitas sedang dan berada pada irigasi tengah. Tanaman yang sesuai dengan irigasi ini antara lain :
a)      Jagung
b)      Padi
c)      Tebu
d)     Kapas 
e)      Melon 
f)       Semangka
Hal ini karena tanaman tersebut semi sensitif terhadap salinitas. Tumbuhan tersebut dapat tumbuh pada ketinggian (300-1800mdpl)

3.      Kelas tinggi
Pada kelas ini memiliki salinitas tinggi dan berada pada irigasi hilir. Tanaman yang sesuai dengan irigasi ini antara lain :
a)      cabe
b)      Kobis
c)      Bawang
d)     Kentang
e)      Mangga
Tanaman yang semi toleran terhadap garam dan tumbuh pada ketinggian (275-450 mdpl) :

4.      Kelas sangat tinggi
Pada kelas ini memiliki salinitas sangat tinggi dan berada di sekitar pantai . Tanaman yang sesuai dengan irigasi ini antara lain :
a)      Kelapa                        e) Jambu
b)      Barley (gandum bir)    f) Palm
c)      Oat                             
d)     Bit
Tanaman yang toleran terhadap garam pada ketinggian (0-350 mdpl)

Sistem Informasi Geografis


Menurut Purwadhi, 1994. Sistem Informasi Geografis merupakan suatu sistem yang mengorganisir perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan data, serta dapat mendaya-gunakan sistem penyimpanan, pengolahan, maupun analisis data secara simultan, sehingga dapat diperoleh informasi yang berkaitan dengan aspek keruangan.SIG merupakan manajemen data spasial dan non-spasial yang berbasis komputer dengan tiga karakteristik dasar, yaitu:
  1. Mempunyai fenomena aktual (variabel data non-lokasi) yang berhubungan dengan topik permasalahan di lokasi bersangkutan.
  2. Merupakan suatu kejadian di suatu lokasi; dan
  3. Mempunyai dimensi waktu.
v  Kemampuan SIG
Kemampuan Sig antara lain :
1.      Memetakan letak
Data realita di permukaan bumi akan di petakan ke dalam beberapa layer dengan setiap layernya merupakan representasi kumpulan benda (feature) yang mempunyai kesamaan, contohnya layer jalan, layer kapling bangunan. Layer-layer ini kemudian disatukan dengan disesuaikan urutannya. Setiap data pada setiap layer dapat dicari, seperti halnya melakukan query terhadap database untuk kemudian dilihat letaknya dalam keseluruhan peta.
2.      Memetakan kuantitas
Orang sering memetakan kuantitas, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan jumlah seperti dimana yang paling banyak atau dimana yang paling sedikit. Dengan melihat penyebaran kuantitas tersebut dapat mencari tempat-tempat yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan dan digunakan untuk pengambilan keputusan, ataupun juga untuk mencari hubungan dari masing-masing tempat tersebut. Pemetaan ini akan lebih memudahkan pengamatan terhadap data statistik dibanding database biasa.
3.      Memetakan kerapatan
Pemetaan kerapatan sangat berguna untuk data-data yang berjumlah besar seperti sensus atau data statistik daerah, misalnya untuk melihat lokasi pelanggan dengan jumlah pemakaian listrik terbanyak atau yang pemakaian listriknya relatif lebih sedikit. Sehingga data ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menyikapi permasalahan yang terjadi akibat ketidakseimbanagn kerapatan.
4.      Memetakan perubahan
Dengan memasukan variabel waktu SIG dapat dibuat untuk peta historikal, histori ini dapat digunakan untuk memprediksi keadaan yang akan datang dan dapat pula digunakan untuk evaluasi kebijaksanaan.
5.      Memetalkan apa yang ada di dalam dan di luar suatu area
SIG digunakan juga untuk memonitor apa yang terjadi dan keputusan apa yang akan diambil dengan memetakan apa yang ada pada suatu area dan apa yang ada di luar area. Sebagai contohnya sebuah gardu listrik dengan kapasitas tertentu dapat melayani pelanggan dalam jarak tertentu dari lokasi gardu listrik tersebut. Dengan peta ini, dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk perancanaan ke depan misalnya untuk memasang tambahan gardu listrik baru di area yang tidak terjangkau gardu listrik yang ada.

v  Fungsi analisis atribut
Data atau informasi geografis, yang diturunkan dari peta-peta tematik, hasil penelitian, pengukuran lapangan, atau bahkan kumpulan data statistik yang dikumpulkan oleh institusi-institusi pemerintah (termasuk data sensus di dalamnya), pada umumnya mengandung lebih dari satu atribut yang diasosiasikan dengan lokasi spasialnya. Sebagai contoh, properties jenis tanah pada umumnya merupakan tipe, warna, tekstur, kandungan organik, , derajat keasaman (ph), dan lain sejenisnya. Baris-baris data yang berisi atribut tambahan ini disebut sebagai entitas non-spasial.
Dengan demikian, sebelum suatu analisis spasial dapat dilakukan, diperlukan suatu data tambahan untk kemudian diintegrasikan ke dalam basis data spasial.

v  Fungsi analisis spasial
1.      Penyuntingan dan pemutakhiran data
Penyuntingan dikaitkan dengan  pemutakhiran data .Misal dalam revisi peta tematik digital,dapat dilakuan tanpa digitasi ulang dari awal
2.      Interpolasi spasial
Memungkinkan untuk membuat peta baru dengan basis data yang telah ada contoh;pembuatan peta lereng,peta ketinggian,diperoleh dari hasil interpolasi data ketinggian dan data dari peta kontur dari basis data
3.      Tumpang susun (overlay) peta
Proses integrasi data dari lapisan-lapisan layer yang berbeda disebut dengan overlay. Secara analisa membutuhkan lebih dari satu layer yang akan ditumpang susun secara fisik agar bisa dianalisa secara visual.
Menghasilkan data spasial yang baru Dari data basis data yang sudah ada (minimal 2 data spasial yang menjadi masukan nya)
4.      Network
Banyka digunakan untuk analisis transportasi dan utilasi.fungsi network merujuk pada data spasial titik dan garis sebagai suatu jaringan yang tidak terpisahkan
5.      Buffering
Menghasilkan data spasial baru berupa polygon dan zone dengan jarak tertentu dari data spasila ynag menjadi masukannya
6.      3D analisis
Penyajian data dalam ruang 3 dimensi pada umunya banyak menggunakan fungsi interpolasi
7.      Digital image processing
Pengolahan citra digital (SIG berbasis raster).


v  Manfaat SIG
Dengan SIG kita akan dimudahkan dalam melihat fenomena kebumian dengan perspektif yang lebih baik.SIG mampu mengakomodasi penyimpanan, pemrosesan, dan penayangan data spasial digital bahkan integrasi data yang beragam, mulai dari citra satelit, foto udara, peta bahkan data statistik. Dengan tersedianya komputer dengan kecepatan dan kapasitas ruang penyimpanan besar seperti saat ini, SIG akan mampu memproses data dengan cepat dan akurat dan menampilkannya. SIG juga mengakomodasi dinamika data, pemutakhiran data yang akan menjadi lebih mudah.

ALAT PENAKAR HUJAN OTOMATIS


1.      Tipping Bucket
The interior of a tipping bucket rain gaugeThe exterior of a tipping bucket rain gauge
Rain gauge adalah jenis alat yang digunakan oleh meteorologist dan hidrologis untuk mengukur jumlah curah hujan dalam periode waktu tertentu. Kebanyakan rain gauge menghitung curah hujan dalam satuan millimeter. Rain gauge tipping bucket terdiri dari silinder tembaga yang menempel di atas tanah. Di atas silinder terdapat pipa yang mengumpulkan dan menyalurkan curah hujan. Hujan jatuh ke salah satu bucket atau keranjang dari dua bucket , yang saat bucket yang satu penuh dengan cepat bucket yang kedua akan menampung hujan yang turun seperti jungkat-jungkit. Setelah jumlah hujan sama dengan 0,2 mm maka bucket akan jatuh dan sinyal elektrik akan terekam di rekorder.
Tipping Bucket Rain Gauge Recorder      Close up of a Tipping Bucket Rain Gauge Recorder chart
Rekorder tersebut terdiri dari pena yang dipasang di roda gigi yang akan bergerak setiap sinyal terkirim dari kolektor. Tipping bucket tidak seakurat standar rain gauge karena hujan yang turun mungkin berhenti saat bucket sudah penuh. Tipping bucket bagus saat menghitung gerimis dan hujan yang sangat ringa. Jika rekorder dilengkapi dengan waktu maka bisa ditentukan berapa banyak hujan yang turun selama waktu tersebut tanpa harus berada di stasiun curah hujan. Satu kelemahan tipping bucket adalah ketidakmampuan estimasi rain gauge saat hujan lebat.

2.      Optical Rain Gauge
Rain gauge tipe ini memiliki sebaris saluran. Di setiap saluran terdapat diode laser dan photoresistor detector. Saat air telah terkumpul untuk membuat single drop, lalu menetes dari bawah jatuh ke batang laser. Sensor disetting di angel yang tepat sehingga laser bisa langsung mendeteksi seperti lampu flash. Flash dari photodetector ini bisa dibaca dan dikirim ke rekorder.

3.   Penakar Hujan Otomatis tipe Hellmann
Merekam curah hujan, yang direkam pada kertas pias.
4. Penakar Hujan Biasa (OBS)
 Penakar Hujan Biasa adalah alat untuk menakar hujan, diukur dengan gelas ukur.


5.  Penakar Hujan Manual Tipe Observatorium

Keterangan gambar :
A: corong penampung
curah hujan
B: silinder penampung
air hujan
C: corong penyalur air
kesilinder penampung
D: tiang dari kayu/beton

Bukan Cinta

Engkau yg sedang dlm hubngan cinta,
yg dlm pengertianmu - seharusnya membahagiakanmu,
tetapi yg hanya memedihkan hatimu, dengarlah ini …

Berhati-hatilah engkau terhadap org yg mengatakan bahwa dia mencintaimu, tapi tidak berlaku lembut dan lalai menghormatimu.
Dan lebih berhati2lah engkau, jika dia berlaku kasar, menyakiti tubuhmu dan melukai hatimu, yg katanya dilakukannya karena cintanya kepadamu.
Dan sangat berhati-hatilah jika dia berkhianat, tapi membuatmu merasa bersalah karena menyebabkannya terpaksa berkhianat.
Janganlah kau biarkan hati dan harga dirimu direndahkan seperti itu, yg katanya demi cinta.
Jika dia betul-betul mencintaimu, dia tak akan mampu menyaksikan wajahmu menggelayut dengan kesedihan, dan matamu menggelimang dengan air mata yg piatu.
Jika engkau jiwa kecintaannya, dia akan mengajukan dirinya terbakar menjadi arang, agar hatimu terpelihara dalam kesejukan cinta.
Sudahlah Engkau berhak berbahagia.
Cinta yg sejati tidak akan melukaimu.
Jika hatimu luka, dan rasa hormat terhadap dirimu sendiri sirna, itu tanda bahwa engkau telah mencintai penista cinta.
Engkau berhak berbahagia.
Engkau jiwa baik yg berhak bagi cinta yg baik.
Tegaslah
Semoga Tuhan segera menyelamatkan hatimu, dan mengenalkanmu kepada jiwa baik yg mencintaimu dengan pengabdian dan kesetiaan yang indah.